Anggria Novita, M.Pd Seorang alumni FITK PIAUD UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, juga aktif sebagai dosen dan Penulis Pendidikan Anak Usia Dini.

Aspek-Aspek Perkembangan Anak Usia Dini

4 min read

Aspek-Aspek Perkembangan Anak Usia Dini

AnggriaNovita.com – Problematika aspek perkembangan anak usia dini pada fase pertumbuhannya, masih sering terjadi dalam dunia parenting atau pengasuhan. Padahal di usia dini adalah masa yang paling tepat, menstimulasi seluruh aspek perkembangan untuk sang buah hati.

Advertisements
Shopee Indonesia - Belanja Semua Kebutuhanmu Bisa Bayar di Tempat

Itulah mengapa, masih banyak yang mengalami hambatan dalam beberapa aspek perkembangannya. Seperti sulitnya berbicara atau berinteraksi dengan lingkungan dan teman sebayanya. Salah satu penyebabnya adalah karena salah satu aspek perkembangan tersebut tidak terstimulasi dengan baik dan tepat.

6 Aspek Perkembangan Anak Usia Dini

Setiap manusia yang terlahir, semua akan mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda-beda. Pertumbuhan yaitu perubahan atau peningkatan pada ukuran fisik seperti bertambahnya berat badan. Sedangkan perkembangan yaitu proses perubahan pada mental seperti kecerdasan.

Baca Juga : 6 Aspek Perkembangan Anak Usia Dini

Menurut teori ilmu psikologi, dalam kasus seorang anak usia dini. Ada 6 (enam) aspek perkembangan anak yang bisa distimulasi sejak dini oleh para orang tua. Karena itu, yuk kita kenali terlebih dahulu apa saja sih aspek-aspek perkembangannya dan bagaimana cara menstimulasinya.

Apa Saja Aspek Perkembangan Anak?

Dalam paragraf ini, saya sangat menganjurkan setiap orang tua agar mau memantau dan mengikuti setiap perkembangan sang anak. Pada setiap tahapan tumbuh-kembangnya itu, si anak akan memperlihatkan kebiasaan barunya.

Foto Ilustrasi oleh Tatiana Syrikova dari Pexels

Namun, kita sebagai orang tua mampu mengarahkan mereka dengan ekstra sabar, maka kebiasaan yang baik akan tercipta. Terlebih, kualitas rasa kepercayaan diri terhadap diri sendiri akan berubah. Karena itu, tak sedikit orang tua mampu menemukan minat dan bakat sang anak untuk dikembangkan lebih jauh.

Namun pada setiap aspeknya, tak hanya keperluan fisiknya saja yang harus diperhatikan oleh orang tua. Tetapi, juga terhadap hal-hal yang memiliki sifat kejiwaan, sosial, dan seterusnya.

Pada setiap aspek yang ada, aspek-aspek tersebut saling berpengaruh satu sama lain. Demi tercapainya tujuan para orang tua dalam mempersiapkan sang buah hati untuk memiliki kepribadian yang mandiri, sehat secara rohani dan jasmani. Adapun 6 aspek perkembangan anak usia dini adalah sebagai berikut :

Aspek Moral dan Agama

Aspek moral yaitu yang berkaitan dengan pembentukan perilaku anak sejak dini seperti membiasakan anak untuk belajar bertanggung jawab, berperilaku sopan, mampu membedakan perbuatan baik dan buruk, mengucapkan salam dan membalas salam, dan lain sebagainya. 

Setelah itu, dalam aspek agama. Karena ajaran suatu agama pasti mengarahkan sikap- sikap yang benar. Misalnya membantu sesama, jujur, serta toleransi dengan pemeluk agama yang berbeda.

Apabila anak-anak tidak diajarkan perilaku jujur sejak dini. Maka yang terjadi adalah ia akan tumbuh besar menjadi anak yang takut untuk menegakkan kebenaran di masa yang akan datang.

Aspek Fisik-Motorik

Fisik adalah tubuh manusia, sedangkan motorik adalah respon dari otak manusia untuk melakukan pergerakan dengan melibatkan motorik halus (aktivitas melalui otot ringan) dan motorik kasar (aktivitas melalui otot besar). Stimulasinya adalah dengan cara memberikan latihan-latihan yang berkaitan dengan aktivitas gerakan.

Motorik halus dapat distimulus melalui kegiatan seperti : meronce, mewarnai, menggambar, menggunting, dan lain-lain. Berbeda dengan motorik kasar yang melibatkan otot-otot besar seperti melompat, berlari, mengayuh sepeda, dan lain-lain.

Foto Ilustrasi oleh Andrea Piacquadio dari Pexels

Kegiatan tersebut tentu saja bermanfaat untuk anak, dan mereka akan belajar banyak hal dalam setiap penjelajahannya. Misalnya tentang bagaimana ia bisa mengatur tingkat kefokusan, ketelitian, keseimbangan, dan lain-lain. Hal tersebut tentu saja membutuhkan proses belajar yang berulang dan perlu latihan setiap hari.

Aspek Kognitif

Menurut Jean Piaget, kognitif adalah sebuah kemampuan berpikir yang akan mengalami satu perubahan. Aktivitas merupakan kunci utamanya, dengan tujuan agar anak mampu membangun konsep berpikir dan menjadi pemecah masalah.

Berikan latihan yang memungkinkan anak untuk membangun konsep berpikirnya, seperti merancang bangunan dari balok, mengklasifikasikan benda berdasarkan ukuran dan warna, mengenal benda berdasarkan fungsinya, mengenal sebab akibat, berekspresi sesuai ide, memahami alur cerita, memahami hal-hal yang berkaitan dengan kemampuan logis-matematis, dan sebagainya.

Ada banyak sekali ide bermain kreatif yang bisa orangtua lakukan bersama anak setiap hari, untuk menstimulasi aspek perkembangan kognitif pada anak yaitu dengan membuat kegiatan bermain yang beragam, terencana dan terarah.

Aspek Perkembangan Anak pada Bahasa

Menurut Vygotsky. Aspek ini digunakan untuk ekspresikan sebuah gagasan/ide dan pertanyaan, yang melibatkan kemampuan berpikir seorang anak. Contoh stimulasi sederhananya adalah dengan mengajak berkomunikasi dua arah (tanya-jawab).

Setelah itu, orangtua juga bisa memberikan stimulus dengan cara membacakan buku cerita setiap hari dan mengajak anak untuk mendeskripsikan sebuah benda.

Setelah membacakan satu buku cerita, sampaikanlah pesan tersirat yang didapat dari cerita tersebut. dan berikan kesempatan pada sang anak untuk menyampaikan pendapatnya tentang cerita tersebut.

Lakukan kegiatan tersebut secara menyenangkan dengan menyelipkan nyanyian-nyanyian yang membangkitkan semangat anak dalam melakukan kegiatan.

Aspek Sosial-Emosional

Anak-anak akan belajar tentang bagaimana berinteraksi dan bertindak dengan lingkungan sekitar. Stimulasi sederhana yang bisa orangtua lakukan adalah dengan cara mengenalkan macam-macam emosi terlebih dahulu melalui ekspresi wajah dan kartu emosi.

Anak-anak perlu mengenal bentuk emosi tersebut secara langsung dan nyata sebelum ia belajar mengelola emosinya sendiri, karena ini juga merupakan bagian dari aspek perkembangan yang harus terstimulasi dengan baik.

Saat anak mulai paham tentang emosi yang ia rasakan, maka akan mudah ia menerima dan mengelola emosinya dengan baik tanpa ada rasa tantrum. Penting untuk memberi kesempatan pada anak untuk merasakan emosinya.

Foto Ilustrasi oleh Andrea Piacquadio dari Pexels

Peranan orang tua dalam pendidikan anak usia dini hanyalah sebatas mendampingi dan menenangkan sang anak saat ia membutuhkan teman bicara untuk menyampaikan emosi yang ia rasakan, dan setelahnya berikan pelukan agar emosinya dapat mereda.

Baca Juga : Peranan Orang Tua dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Selain itu, berikan contoh nyata yang berkaitan dengan permasalahan sosial. Ajarkan kepada anak, tentang penggunaan kata “maaf” apabila melakukan kesalahan. dan penggunaan kata “tolong” apabila membutuhkan pertolongan. Serta penggunaan kata “terima kasih” jika diberi bantuan ataupun sesuatu. Dengan demikian, anak akan belajar menjaga diri sendiri dan menghargai orang lain.

Aspek Perkembangan Anak pada Seni

Seni sangat erat kaitannya dengan kemampuan menciptakan sebuah karya, serta bagaimana anak mengekspresikan dirinya. Serta menumbuhkan nilai keindahan dalam kehidupan sehari-hari menggunakan sebuah seni.

Stimulasi sederhana yang bisa orang tua lakukan adalah memfasilitasi lingkungan belajar yang dapat memicu anak untuk berkreativitas. Misalnya, lakukan aktivitas seperti menyanyi, menari, meronce, menggambar bebas, mewarnai, melipat, finger painting, dan lain-lain.

Aspek perkembangan seni anak usia dini yang ditekuni, dan dilatih secara terus-menerus. Akan melahirkan sebuah minat dan akan menjadi sebuah bakat yang luar biasa. Karena itu, penting untuk memfasilitasi segala kebutuhan anak untuk menstimulus aspek perkembangan dalam bidang estetika (seni).

Penutup

Kesimpulannya, setiap aspek-aspek perkembangan anak usia dini yang dijelaskan diatas memang harus diperhatikan secara serius. Para orang tua bisa menerapkan dan mempraktikkan secara mandiri. Namun, para orang tua tak perlu khawatir apabila anak-anak belum bisa menunjukkan perkembangan seperti anak lain yang seumuran dengannya.

Dalam melihat proses perkembangan sang anak dari hari ke hari, memang sangat terasa menyenangkan dan bahagia. Namun, ada banyak orang tua merasa tak sabar ingin melihat sebuah hal baru dari sang anak.

Tetapi, kita para orang tua harus menghormati proses, dan membiarkan anak berkembang secara alami tanpa paksaan. Jika proses perkembangan anak terjadi tak sesuai tahapan usianya.

Sekian, dan semoga tulisan ini bermanfaat.

Advertisements
Shopee Indonesia
Anggria Novita, M.Pd
Anggria Novita, M.Pd Seorang alumni FITK PIAUD UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, juga aktif sebagai dosen dan Penulis Pendidikan Anak Usia Dini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Maaf, fitur klik kanan tidak tersedia!